Lucifer’s Curse
Prolog
The Great Oracle, sosok yang dipercaya telah hidup cukup lama untuk melihat manusia pertama berjalan di bumi. Ia meramalkan kejadian-kejadian besar yang mengguncang langit dan bumi. Ada yang mengenalnya sebagai sosok anak kecil, nenek-nenek, wanita muda, bahkan hewan seperti burung merpati hingga seekor serigala. Tidak ada seorang pun yang tahu wujud aslinya. Sebagian orang yang pernah bertemu menganggap ialah sang waktu sendiri, seolah waktu berada di tangannya.
Hamparan bebatuan dan tebing curam hampir menyatu dengan malam. Angin dingin berhembus di celanya. Seorang anak perempuan kecil berjalan tenang, membawa sebuah lentera. Matanya yang hitam pekat menerawang jauh langit yang penuh bintang. Ialah The Great Oracle.
“Malapetaka besar mengguncang Underworld dan Caleum-surga, akan kembali terulang. Seorang Angel dan Demon yang berusaha menjebol batas diantara mereka,” gumam sang Oracle, seolah tenggelam dalam lamunan. Sebuah visi melintas dibenaknya. Kilasan Underworld yang meledak, lalu Caelum diselimuti oleh asap hitam tebal selama ratusan tahun-visi itu berganti menunjukkan seorang gadis dari ketinggian memandang dunia yang penuh cahaya gemerlap. Benda-benda menjulang tinggi dari tanah, seperti stalagmit yang berusaha mencapai langit-dunia masa depan, batin sang Oracle. Dalam visinya, gadis itu mencengkram belati terkutuk, orcus.
“Hal buruk, akan menarik hal buruk yang lain untuk terjadi,” gumamnya, dengan memahami dan menguraikan benang-benang masalahnya, ikatan takdir ini akan terputus. Atau ikatan ini akan terus membelit ribuan tahun dan ribuan tahun selanjutnya.”
“Hal buruk, akan menarik hal buruk yang lain untuk terjadi,” gumamnya, dengan memahami dan menguraikan benang-benang masalahnya, ikatan takdir ini akan terputus. Atau ikatan ini akan terus membelit ribuan tahun dan ribuan tahun selanjutnya.”
***
Ratusan ribu tahun lalu ketika hanya ada sedikit manusia dibumi dan mereka masih bisa melihat sayap-sayap angel dan demon.
Diatas api-api yang mengamuk itu, sesosok malaikat iblis melayang diam. Membopong seonggok tubuh penuh noda darah yang sudah tidak bernyawa. Siluet pemuda itu sesempurna pahatan. Sayap hitam kokohnya mengibas api-api merah semakin berkobar.
Dan bagian paling mengerikan dari semuanya, sorot matanya semerah darah penuh kedengkian absolut. Sorot mata milik Lucifer, Azura merinding. Tiba-tiba semuanya meledak, lalu menjadi gelap. Seolah itu adalah saat terakhir sebelum ia sendiri meninggal.
Azura berdiri dan tersentak.
Kesadarannya kembali di saat ini, dimana ia sedang berpijak dilantai batu ruang tahta kerajaan.
Nyala obor membuat bayang-bayang pilar semakin besar. Bayangannya menari-nari di tembok batu ruang tahta yang megah. Seorang pemuda berwajah rupawan dan perawakan atletis, mengetuk-ngetukkan telunjuk secara teratur pada lengan kursi tahta. Mahkota emas diatas rambut hitamnya semakin menonjolkan wajah tampan itu. Mata abu-abunya menatap tajam pintu ganda ruang tahta seperti sedang menanti seseorang.
Azura, sang Oracle yang berambut merah panjang, berdiri diam disamping tahta sang raja neraka.
“Tuanku”, Azura memulai, mata birunya menatap cemas ke arah sang raja, Gregory.
Gregory menangkat tangan, menghentikan dengan gusar. “Jangan katakan apapun lagi tentang penglihatanmu itu Azura.” Ia memang terkenal tempramental.
“Tapi, aku tidak pernah melihat visi yang begitu jernih dan nyata,” Azura memberanikan diri untuk melanjutkan. Ia benar-benar gelisah dengan penglihatan yang makin lama makin sering menyita kesadarannya, membuatnya dalam keadaan bingung.
“Dengar, Azura, kerajaan Underworld tidak akan jatuh saat masa kekuasaanku. Sebentar lagi masa kejayaan akan tiba. Karena aku sendiri akan mengklaim kekuatan Lucifer,” kata Gregory dengan penuh tekad dalam mata abu-abunya.
“Kau bisa mengklaim kekuatan itu dengan mengklaim Lucifer Curse, tidak dengan cara seperti ini. Apalagi melibatkan seorang Angel.” Tanpa sadar suaranya meninggi oleh kegelisahan. Azura merasakan tangannya mulai basah.
“Lucifer Curse. Ha! Dan aku tidak akan pernah menjadi diriku sendiri lagi.” Gregory tertawa sinis. “tidak pernah ada demon yang cukup bodoh untuk melkukan hal itu, walaupun ia sangat haus kekuatan,” katanya sambil mendengus.
Memang benar, seorang demon yang mengklaim Lucifer’s curse akan abadi dan memiliki kekuatan Lucifer sendiri. Namun, tubuhnya akan berubah menjadi wadah kosong tanpa hati dan jiwa. Ia akan menjadi hamba Lucifer dalam keabadiannya.
“Itu terlalu mengerikan. Aku masih sennag karena seorang Demons tidak benar-benar immortal. Aku hanya butuh ribuan tahun kejayaan Underworld dan semua Demons tunduk padaku karena kekuatan yang kumiliki, lalu meninggal dengan penuh penghormatan,” lanjut Gregory. Kali ini, Azura tidak menanggapi lagi.
Tak berapa lama kemudian, seorang bawahan kepercayaan yang telah dinanti-nanti Gregory, akhirnya tiba. Dean melenggang masuk dengan percaya diri, membungkuk hormat di depan Gregory. Rambut hitam cepak dan mata hijau, serasi dengan rautnya yang penuh kebengisan.
“Kau sudah membawa belatinya?” tanya Gregory.
“Semuanya sudah siap, Yang Mulia,” jawab Dean, tersenyum bengis. Gregory mengangguk puas. Dean tak pernah mengecewakan.
“seseorang yang sangat kubenci, tapi sangat dicintai oleh satu-satunya orang berhubungan darah denganku, akhirnya berada ditanganku,” gumam Gregory, seolah merapal mantra. “Dean, jang lupa beri Aurelle penawar racun sedikit. Aku ingin menyiksanya perlahan-lahan.” Seulas senyu keji terlukis diwajah mudanya yang tampan.
“Maaf, Tuanku?” Dean tampak sedikit terkejut, ia mengira rajanya salah bicara. “Kukira anda ingin segera mengambil jantungnya untuk ritual kekuatan itu?”
Api kebencian menari-nari dimata Gregory. “Aku hanya sedikit melampiaskan kebencianku. Ia telah merebut satu-satunya adikku, Will, dari kaumnya sendiri.”
Sejak Will jatuh cinta dengan Aurellie, ia memutuskan untuk menolak posisi sebagai tangan kanan raja. padahal Gregory sangat mengharapkan potendinya untuk mengembangkan kekuasaan kerajaan. Gregory tahu, ia tidak memiliki kecerdasan dan kekuatan yang sebanding dengan Will. Dan ia sangat bersyukur karena Will tidak ingin menjadi raja, hanya ingin memberi dukungan untuk Gregory.
Azura yang sudah tidak bisa menahan ketidaksetujuannya, langsung menyela, “Tuanku, dengan segala hormat, tolong selesaikan ritual ini dengan cepat. Jangan sampai emmancing perpecahan dengan kaum Angels.” Visi itu sudah menggerikan, sekarang Gregory hendak menambahkan kekacauan lebih jauh. Gregory langsung menoleh kearahnya dengan tajam.
“Akulah rajanya, Azura. Kau sebaiknya tutup mulut!” bentak Gregory jengkel, membuat Azura menunduk memohon maaf.
Ditengah kekesalannya, Gregory langsung menyuruh Dean membawa malaikat itu ke Cruciatus Field. Azura melotot terkejut mendengarnya. Cruciatus Field adalah lapangan penyiksaan bagi jiwa-jiwa manusia yang paling buruk dan entah bagaimana ia tahu sebagian dari visinya itu terjadi disana. Walaupun Azura adalah seorang Oracle kerajaan Underworld, tapi ia tahu batasan-batasan apa yang tidak pantas. Dan seorang malaikat surga sangat tidak pantas berada di lapangan itu, dipermalukan ditengah jiwa-jiwa yang berkeliaran disana, namun Azura berusaha menggigit bibir. Tidak ada gunanya membuat Gregory semakin marah. Bahkan, Dean tampak mematung tertegun mendengar perintah itu.
“Dean, sekarang!” teriak Gregory lagi.
Dean melihat nyala mengerikan itu dimata Gregory dan memutuskan untuk menjalankan apapun yang dikatakannya tanpa bertanya.
Begitu Dean pergi, Azura melihat Gregory mempersiapkan pedangnya dan mengusap bilahnya yang mengkilap. Ia hanya menelan ludah gugup. Entah apa yang akan dilakukan Gregory pada malaikat itu, namun satu hal yang sedikit menganggu Azura.
“Bagaimana dengan Will?” tanya Azura, memberanikan diri. Amarah Gregory tampak mereda sejenak. Seulas senyum licik melintas sejenak di wajahnya.
“Oh ia sedang berkelana sedikit terlalu jauh dari istana karena permintaanku,” jawabnya. Sebenarnya bukan itu yang ingin ditanyakan Azura. Bagaimana perasaan Will saat tahu tentang semua ini?” Aku sudah tidak peduli lagi kalau Will membenciku. Aku tidak membutuhkannya lagi untuk menjadi tangan kananku. Jika ia melawan, ia tidak akan bisa mengalahkan kekuatan baru yang akan kudapatkan,” lanjut Gregory sambil menyarungkan pedang dan mulai melenggang menuju Cruciatus Field.
***
Setetes keringat dingin menuruni punggungku dengan sangat perlahan dan tangan kananku mencengkram lembut gaun putih panjang yang kukenakan, seiring mereka mendarat dihamparan rumput dihadapanku atau tepatnya tiga orang itu. Salah satunya adalah Dean, orang kepercayaan Gregory.
“Hallo, Angels,” Dean menyapa penuh nada mengejek. Mata hijaunya berkilat licik. Angels, adalah sebutan untuk kaumku. Seharusnya Angels dan Demons tidak bisa bersama, tetapi ada satu cara dengan menjadi manusia.
“Ada apa kau kesini, Dean?” tanyaku, menjaga suaraku tetap terkendali. Aku mulai merasa ada yang tidak beres.
“Will memintaku untuk menjemputmu,” katanya. Tidak mungkin!
“Apa yang dikatakan Will tepatnya? Ia tidak pernah bilang kaulah yang akan menemuiku disini,” desakku, mengulur waktu. Pikiranku terus meneriakkan nama Will.
Dean tertawa mengejek “Kau benar, Will tidak pernah menyuruhku kesini, tapi kau sudah tidak bisa lari lagi Aurellie,” dua kawanannya mulai merinsek maju hingga masing-masing berada dikanan kiriku.
Dengan sangat cepat Dean melesat maju dan menusukkan belati tepat dibawah jantungku, aku tahu belati ini, ini belati beracun, orcus. Air mata menuruni pipiku, bukan karena kesakitan, namun karena memikirkan will. Perlahan-lahan kesadarankupun menghilang.
“Hallo, Angels,” Dean menyapa penuh nada mengejek. Mata hijaunya berkilat licik. Angels, adalah sebutan untuk kaumku. Seharusnya Angels dan Demons tidak bisa bersama, tetapi ada satu cara dengan menjadi manusia.
“Ada apa kau kesini, Dean?” tanyaku, menjaga suaraku tetap terkendali. Aku mulai merasa ada yang tidak beres.
“Will memintaku untuk menjemputmu,” katanya. Tidak mungkin!
“Apa yang dikatakan Will tepatnya? Ia tidak pernah bilang kaulah yang akan menemuiku disini,” desakku, mengulur waktu. Pikiranku terus meneriakkan nama Will.
Dean tertawa mengejek “Kau benar, Will tidak pernah menyuruhku kesini, tapi kau sudah tidak bisa lari lagi Aurellie,” dua kawanannya mulai merinsek maju hingga masing-masing berada dikanan kiriku.
Dengan sangat cepat Dean melesat maju dan menusukkan belati tepat dibawah jantungku, aku tahu belati ini, ini belati beracun, orcus. Air mata menuruni pipiku, bukan karena kesakitan, namun karena memikirkan will. Perlahan-lahan kesadarankupun menghilang.
***
“Sebastian, apa menurutmu ini bahkan masuk akal?” omel seorang pemuda yang sedang berselonjoran di luar kandang besi besar berisi seekor Drakon besar yang sedang menyantap beberapa hewan. “Aku merasa terhina. Bisa-bisanya Gregory menyuruhku memberi makan Drakon miliknya. Seperti kekurangan pelayan saja.”. Ia adalah pangeran Underworld, tangan kanan sang raja, jendral yang memimpin pasukan Underworld.namun, menjadi pengasuh binatang buas tidak termasuk dalam tugas Will.
“Tuanku, anda sudah menggerutu jengekl sejak beberapa jam yang lalu.” Pemuda berambut cokelat ikal bernama Sebastian itu hanya menggeleng.
Kandang Drakon berada di salah satu bukit paling terpencil di dunia manusia. Entah ada alasan apa, kakaknya, Gregory, tiba-tiba memintanya untuk memberi makan Drakon. Setiap raja selalu punya binatang peliharaan sendiri.
“Menurutmu Aurellie benar-benar mendapat surat itu? Elangmu tidak ke sasarkan?” tanya Will tiba-tiba. Ia merasa gelisah.
“Ya, tentu saja tidak. Grassor tidak pernah tersesat sekalipun.” Sebastian menyahut cepat.
“Seharusnya, sekarang aku dan Aurellie sudah menjadi manusia jika tidak ada tugas ini.” Jawab Will.
“Will kau harus kembali sekarang juga! Gregory membawa Aurellie ke istana. Dengan menggunakan belati orcus. Aku mendengar Gregory menyuruh Dean membawa Aurellie ke Cruciatus Field.” Teriak Nathan.
“Apa?” seolah seseorang baru saja menamparnya. Tidak butuh penjelasan lebih lanjut tentang apa yang terjadi. Ia tahu suratnay tidak sampai ke tangan Aurellie, ia tampak mengamuk saat itu juga.
“Racunnya! Kau harus cepat!” kata Sebastian, ia panik setengah mati sekrang setelah mendengar Orcus.
“Aku tahu! Hanya saja, butuh berjam-jam bahkan kalau aku terbang secepat mungkin!” bentak Will. Tangannya gemetar oleh amarah, rasanya ingin menghantam sesuatu.
Sebuah ide tiba-tiba menyentaknya. Will menoleh ke kandang Drakon dan menghampiri kandang itu secepat mungkin.
“well, aku tidak bisa terbang cepat , tapi makhluk ini bisa. Dan tepat saat aku di depan Gregory, aku akan memotong leher binatang peliharaannya ini,” kata Will, nada suaranya tenang, penuh tekad. Ia tahu, membunuh peliharaan raja, sama dengan tanda permberontakkan mutlak seperti memotong leher sang raja sendiri.
***
Aku tidak tahu apa sekang aku masih hidup atau sudah mati. Saat matuku mulai mengerjap terbuka, semuanya terbayang seperti melihat dari balik air terjun. Begitu kesadaran dan ingatanku kembali, rasa sakit tusukan belati tadi langsung menyerangku lagi bagai ribuan pedang yang tiba-tiba dilemparkan dan semuanya menancap dalam tubuhku.
“Oh lihatlah, kau masih bisa membuka mata indahmu itu berkat penawar racun yang kuberikan. Kau tidak akan bisa merasakan, racun itu membunuhmu sangat perlahan.” Sesorang berbicara dengan senang. Aku mendongak, mendapati Gregory menatapku dengan binar puas yang keji.
“sekarang, kau tidak ingin memohon agar kematianmu berlangsung lebih cepat?”lanjutnya.
“Aku tidak akan memohon pada orang sepertimu,” aku berusaha berkata dengan nada sejijik mungkin.
Gregory menginginkan ritual itu sejak lama. Ritual untuk ‘mencuri’ kekuatan Lucifer dengan mengorbankan satu jantung orang yang paling dibencinya, namun harus sangat dicintai oleh orang yang berhubungan darah dengannya.
“Gregory!!” tiba-tiba terdengar suara teriakan yang begitu penuh amarah.
Untuk sejenak, aku melihat seekor Drakon melayang dihadapanku. Sedetik kemudian tiba-tiba kepala Drakon itu terjatuh dengan keras di lantai batu, diikuti tubuhnya.
“KAU! Berani-beraninya!” seru Gregory murka.
Pertarungan pun tidak bisa dielakkkan lagi. Tanpa diduga, Gregory membawa dua pedang dan will tidak mengantipasi pedang yang lain. Aku melihat kakinya tersayat dengan menyakitkan dan ia terjatuh berlutut dengan keras. Dengan ngeri aku melihat Gregory mengangkat kedua pedangnya lagi...
“Tidak!!” jeritku.
***
Aurellie benar-benar meninggalkanku, pikir Will. Ia masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya beberapa menit terakhir. Tubuhnya yang sudah tidak bernyawa, terbaring dalam dekapan Will. Ia tahu, racun orcus tidak hanya membunuh fisik, namun belati itu dapat menghancurkan jiwa seseorang, menghapusnya dari dunia ini. Cukup sudah, batin Will.
Perlahan-lahan, ia bangkit sambil tetap mendekap Aurellie dalam gendongannya. Semua perasaannya seolah tertutup karena kesedihan yang terlalu hebat. Air mat di pelupuknya menetes untuk pertama dan terakhir. Mata abu-abunya sekarang mengeras oleh tekad. Tekad untuk menghancurkan semuanya.
Dari kejauhan, Azura melihat visinya mulai menjadi kenyataan. Seonggok tubuh terkulai tak bernyawa dalam dekapan Will. Jubah putih malaikat itu, Aurellie, penuh noda darah yang menggelap. Perlahan tubuh malaikat itu meluruh menjadi debu. Dan yang membuat Azura merinding adalah tatapan dimata will. Begitu mutlak dan tak terbantahkan. Seolah ia menutup semua perasaannya dengan amarah dingin.
Will mulai terbang naik dengan perlahan agar semua Demons dapat melihatnya dengan jelas. Pandangan matanya begitu tajam oleh kesedihan yang berubah menjadi amarah dan sebuah tekad baja.
“Oh tidak!” gumam Azura. Ia berdiri di tepi lapangan penyiksaan itu, tidak mampu berbuat apa-apa. Azura melihat Gregory masih hidup, namun terluka parah. Will masih tidak berkata apa-apa. Ekspresinya menjadi selicin es dan tak terbaca.
“I claim the Lucifer’s Curse!” tekad memancar dimatanya. Tekad untuk memusnahkan semua yang telah menghancurkan kebahagiaannya.
“Sekarang, nikmatilah hari kiamatmu,” ia tersenyum keji. Senyum yang tidak pernah terlihat diwajah Will. Wajah rupawannya semakin mencolok dengan aura berbahaya.
Hanya dalam sedetik lamanya, api hitam meluluhlantakkan seluruh tempat itu. Hati dan jiwa Will telah hilang selamanya. Jeritan para demon dilautan api hitam seolah-olah tidak berpengaruh apa-apa terhadapnya. Sekarang hanya ada kebencian dan ingatan kesedihan entah sampai kapan.
Seolah lucifer sendiri menyambutnya, api hitam itu menyambut Will, lalu membalut tubuhnya dengan kekuatan iblis yang tidak pernah dimiliki malaikat manapun, kecuali mungkin sang iblis itu sendIri. Lalu, semuanya meledak, itulah kegelapan yang dilihat Azura sebelumnya.
Jauh di atas langit, seorang malaikat berambut pirang dengan mata biru cerah berdiri di ujung tebing caleum -surga. Tangannya menggapai ke awan-awan hitam yang berlomba-lomba menyelimuti caleum. Kedahsyatan ledakan yang baru terjadi tak sebanding dengan pergumulan di dalam hatinya. “aku membuatnya terbunuh, dan Will... “ ia tercekat. “ini semua salahku, “ gumamnya, dengan suara gemetar.
***
Ini adalah awal dari hari yang baru, tapi rasanya seolah ada hal yang berbeda, seolah semuanya telah berakhir.
Duniaku terasa berhenti berputar.
Dan matahariku terasa berhenti berkobar.
Pernahkah kamu melihat matahari setelah patah hati, membeku entah disuatu waktu.
Pernahkah kamu melihat bintang setelah kata perpisahan, aku melihat itu sebelumnya didalam matamu
Aku tersesat di dalam kegelapan, ingin berada di mana kau berada
Siang dan malam terasa seperti tak pernah berakhir.
Ribuan tahun. ...
Puluhan ribu tahun....
Ratusan ribu tahun. ...
New York. Musim semi (masa sekarang)
Lampu-lampu mobil dijalanan seolah membentuk aliran sungai berwarna keemasan ditengah gedung-gedung Pencakar langit. Semua gemerlap cahaya cahaya itu begitu terangnya hingga membuat lapisan stratosfer memantulkan cahanyanya. Bahkan, gemerlap-gemerlap itu memantul di kaca besar yang berfungsi sebagai tembok pembatas antara kamar mewah dengan udara luar.
Will mengamati dari penthouse bangunan pencakar langit tertinggi di New York. Ia duduk dengan santai di sebuah kursi berlengan besar yang nyaman. Hampir setiap malam ia menghabiskan waktu beberapa menit duduk disini dan merengguk pemandangan kota New York dari lantai tertinggi yang ada di Seluruh kota. Menyadari betapa dunia telah banyak berubah sejak ratusan ribu tahun. Demons telah memiliki wujud yang berbeda, membaur diantara manusia-manusia yang tidak bisa membedakan. Hanya segelintir orang yang bisa melihat wujud mereka sesungguhnya.
Ia merasa seolah membeku. Waktu tidak pernah memberi pengaruh adapun terhadap dirinya, dan tidak akan pernah menghapus ingatan masa lalu yang kelam itu. Will merasa inilah hukuman atas kekuatan terkutuk yang diterimanya, hidup abadi dalam kehampaan dan hati yang beku.
****
Sebelum turun dari mobil, aku memastikan aku berada di luar gedung apartemen yang tepat. Aku melihat alamat yang tertera di kartu undangan pesra simpel khas para remaja C.D.T The Luxury Apartement's Penthouse.90nd, floor. Lalu mendongak ke arah papan nama elegant di dekat pintu utamanya. Sebenarnya aku nggak yakin Lizzie diundang ke pesta di apartemen mewah dan elit begini.
Kata-kata bibi Charlene tergiang kembali: "kalau malam ini kau tidak bisa membawa sepupu yang gila pesta itu pulang, aku terpaksa harus memulangkanmu lagi ke ibumu agar tidak terpengaruh dengan pergaulannya yang jelek itu. " ancaman dipulangkan adalah ancaman yang paling menyeramkan nomor satu bagiku. Aku tidak ingin kembali ke rumah itu dengan suatu alasan yang kuat.
Akhirnya aku membuka pintu mobil dan keluar, memberikan kunci mobil pada petugas vallet service. Aku mencoba melihat pakaiankuku sendiri. Flare dress simpel selutut dan sepatu berhak model suede pumps. Kau baik-baik saja Isabelle, batinku meyakinkan diriku sendiri. Kuharap bajuku tidak terlihat seperti baju tidur diantara baju orang-orang yang berseliweran didalam sana.
Beberapa jam kemudian, aku sudah melenggang memasuki lobby besar yang mewah. Parfum elegan dan segar langsung melingkupi. Aku berusaha berjalan dengan percaya diri saat tante-tante modis melirik kearahku. Bahkan, si petugas resepsionis gatal ingin mengamatiku dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Aku ingin menghadiri pesta ini. Bisa tolong tunjukkan arah menuju penthouse?" tanyaku sambil menyodorkan kartu undangan pesta Lizzie yang tertinggal.
Ha! Sesaat tadi aku merasa menang ketika menemukan Lizzie meninggalkan undangannya, tiket masukku di pesta asing ini.
"Penthouse?" resepsionis itu tampak sedikit ragu-ragu. "Well memang ada pesta disana. Security dibalik pos itu akan menunjukkan jalannya padamu," lanjutnya lagi, seolah meyakinkan diri sendiri bahwa ia tidak melakukan kesalahan. Aku mengkerutkan kening bingung melihat ekspresinya. Apa yang ia takutkan?
Sekali lagi si security mengecek keaslian undanganku, mengamatiku lekat-lekat dengan oandangan khas mata security aku-galak-jadi-jangan-macam-macam, berusaha melihat apakah aku memiliki kecendurungan akan melakukan kriminalitas atau tidak. Tampaknya pesta ini sangat private.
"Nama?" tanyanya, masih dengan pandangan mata yang sama. O-oh ini gawat. Otakku segera melakukan spekulasi. Kalau aku menyebutkan namaku, dan ia akan melakukan cross check, aku akan ketahuan. Bad ending. Tapi, jika aku menyebutkan nama Lizzie-dengan taruhan berbahaya ia belum mendaftarkan namanya, maka aku bisa lolos karena nama Lizzie sudah ada di undangan. Hmmm.... Better?
Sambil finger cross, dibalik punggung, aku menyebutkan nama Lizzie. "Ehm... Elizabeth, oh maksudku Natasha Withfield." jantungku berdebar-debar.
Hampir saja melakukan kesalahan. "Elizabeth adalah nama tengah yang jarang kupakai." kataku sambil memaksakan senyum menis. Berusaha meredakan tatapan curiganya.
Aku lupa kalau Lizzie tidak bisa menggunakan nama tengahnya -Elizabeth, dalam urusan sehari-hari. Ia membiarkan hanya keluarganya saja yang memanggil dengan Elizabeth, dan khusus aku Lizzie. Si security memandangku dengan memincingkan matanya. Lalu kembali ke papan pijit yang ia pegang.
"oke, namamu terdafar disini, " katanya, jadi, dari tadi dia tidak men-checklist siapa yang sudah hadir? Dalam hati aku merosot lega.
Setelah mendengar instruksi menuju penthouse, aku berterima kasih sesopan mungkin dan langsung menyingkir. Mengikuti arahan security tadi, sampai di ujung lorong buntu dan berbentuk huruf 'U'. Aku menuju lift tengah di ujung lorong yang tampak dibuat berbeda dengan yang lain. Kesimpulanku, siapapun pemilik penthouse itu, ia pasti anak konglomerat di kota New York.
Begitu aku menekan tombol 'Up', pintu lift langsung terbuka tanpa menunggu. Alu mengingatkan diriku sendiri kalau lift ini adalah lift khusus, akses pribadi menuju penthouse. Aku menekan satu-satunya nomor yang ada, nomor 90, lantai paling atas. Hanya dalam beberapa detik saja, aku langsung terpesona dengan lift ini, tidak seperti lift gedung lain yang pernah kuingat, lift khusus tersebut mempunyai dinding yang seluruhnya kaca. Bagi orang yang takut ketinggian aku bertaruh, akan langsung merasa mual dan pusing begitu masuk kedalam lift ini. Tapi aku sebaliknya. Aku cinta ketinggian.
Seiring lift naik dengan sangat mulus, aku menikmati pemandangan ribuan lampu-lampu di gedung-gedung pencakar langit yang berhamburan di kota Manhattan, serta Hudson River yang semakin mengecil
Kacanya benar-benar dipoles hingga bersih, sampai membuat kesan seolah tak berdinding.
Lift berhenti dengan mulus dengan berdenting pelan. Aku mengira begitu pintu lift terbuka di sebuah foyer privat. Namun aku salah besar. Begitu pintu lift bergesed membuka, aku melangkah keluar dan mendapati sedang berada dalam lorong berdinding kaca dan beratap kaca dengan lantai marmer yang berkilau, bernuansa temaram dan modern. Beberapa dari dinding kaca itu merupakan jendela, jadi sewaktu-waktu bisa dibuka. Tapi saat ini semuanya di tutup untuk menghalau angin malam yang kencang, sebagai gantinya ada aliran udara dingin dari pendingin udara didalam sini.
Lorong kaca itu terletak dihamparan tamaan rooftop yang dipenuhi lampu-lampu elegan dan kolam yang airnya tampak setenang kaca. Lorong ini memanjang, lalu berbelok ke kanan, dan berakhir di tempat tepat ke arah pintu masuk ke sebuah bangunan besar yang mirip mansion. Sebenarnya, bangunan itu lebih terlihat seperti mansion modern yang dibangun diatas apartemen mewah New York yang disebut penthouse.
Saat aku melewati lorong kaca itu, aku rasa seperti melewati lorong air Sea World
dengan taburan bintang diatasnya, alih-alih air dan ikan. Pintu masuk penthouse ini sangat simple, pintu kaca itu langsung terbuka begitu aku mendekat.
Ada semacam resepsionis kecil di dekat pintu masuk, harum pewangi ruangan yang soft dan segar segera menghambur kesekelilingku. 2 orang satpam berdiri diam bagai patung di kanan dan kiri pintu, bahkan tidak menoleh ke arahku. Siapa sih yang tinggal disini? Sekilas, saat akh melewati pintu utama, ada plat acylric yang terpasang di samping pintu. Castum. De. Inferno. Nama yang menarik untuk sebuah penthouse, pikirku mengartikan kata demi kata bahasa latin itu sampai mengangkat alis.
Akhirnya aku masuk ke dalam dan ruangan itu sepi, ada lorong sempit pendek dan lampu-lampu kuning kecil yang menyorot ke atas. Aku mulai mengendap seperti maling yang takut ketahuan.
***
Tangan Will berhenti begitu air sudah mengisi gelasnya separuh penuh. Ia menelengkan kepala sambil berkonsentrasi. Rasanya ia mendengar suara seseorang menarik nafas, dengan tajam. Sudah cukup buruk bahwa peredam suara di ballroom tidak bisa menahan suara musik hingga tidak terdengar oleh telinganya yang berkemampuan normal diatas rata-rata. Sekarang, apakah salah satu tamu Kyle menyusup masuk ke kawasan tempat tinggal penthousenya?
Will meletakkan kembali gelasnya yang separuh penuh diatas meja kitchen set, lalu ia berjalan menuju ruang duduk dikejauhan. Ia hanya menyalakan lampu kecil dan lampu meja di ruang duduk. Bahkan, di pantry ini ia hanya menyalakan satu lampu tepat diatas kitchen set. Tapi itu sudah cukup terang baginya. Bahkan dalam keadaan gelap gulita, ia mampu melihat. Ia berjalan ke tempat ruang duduk. Sambil berkonsentrasi terhadap indra pendengarnya.
"Aku tahu kau bersembunyi, dilain sisi meja itu, " kata Will. Pelan-pelan gadis itu berdiri sekitar 2 meter darinya. Ia menutupi wajahnya dengan tas, dan diam-diam mencuri pandang ke arahnya. Will menyipitkan mata berusaha melihat wajahnya.
***
Prolog
Aku melihat tatapannya, seperti ribuan tahun yang lalu. Dia berenkarnasi menjadi sosok manusia. Dia Isabelle.
Kilasan kabur tentang seorang gadis yang selalu memenuhi mimpinya, terasa semakin nyata. Ingatan akan masa kehidupan Angels dan Demons berhamburan. Janji-janji , tragedi yang melukai satu sama lain dan sumpahnya, "Tidak peduli ratusan sampai ribuan tahun, i will find you again- aku tak akan pernah melupakanmu. "
Kereennn👍👍👍
BalasHapusGreat job! Lanjutkan karyanya yaa
BalasHapusGreat job! Lanjutkan karyanya yaa
BalasHapusBagus sist lanjutkan 👏
BalasHapusBagus sist lanjutkan 👏
BalasHapusBagus sist lanjutkan 👏
BalasHapusKerennn, genre nya aku sukaa!!! Mantap lah fitri
BalasHapusKerenn.. Lanjutkan ya.
BalasHapusMixan dari semua cerita Yunani nih.. Kereeeeeen
BalasHapusKereeen! terus berkarya ya
BalasHapusKereeen! terus berkarya ya
BalasHapusLanjutkan
BalasHapusMenarik sekali
BalasHapusFantastic!!
BalasHapusKerennn👏
BalasHapusDaebak fit👏👍
BalasHapusWoww good job fit!! Fantasimu membawa aku ikut berfantasi pula 😊😊
BalasHapusMantull fit👍
BalasHapusMantap fit!
BalasHapusBagus ceritanya bikin kitaa jadi ber imajinasi 🤣
BalasHapuskerenn.. lanjutkan fit!!
BalasHapusBagus.. Lnjutin bkin novel.. Whehehe
BalasHapusBagus, semangat berkarya fit 😊
BalasHapusKereeeeen
BalasHapusKereeenn:(
BalasHapusSukaaasukaa
BalasHapusMantap jiwa :D
BalasHapusWoow. Jadi inget Azura yang di film barbie😂
BalasHapusDaebak 👍🏼
BalasHapusItu udhu ending mbak? Ih aku kira ada lanjutannya 😭
BalasHapusWe-O-We..
BalasHapusWah keren kak 👍
BalasHapusKerenKeren fit
BalasHapusJazakallah
BalasHapusmantap pit lanjutkan,....
BalasHapusceritanya menarik, bahasanya juga sangat mudah dipahami
BalasHapusWahhhh lanjutkan nur👍💪
BalasHapuskeren fit, tema yang diangkat sangat menarik.
BalasHapuskeren sangat 👍
BalasHapus