Minggu, 24 Februari 2019

ARTIKEL

Minggu, 24 Februari 2019

WORTEL

          Wortel merupakan jenis tumbuhan sayuran umbi. Wortel ini biasanya berwarna jingga atau putih dengan texstur serupa kayu. Bagian yang dapat dimakan dari wortel adalah bagian umbi atau akarnya. Wortel adalah tumbuhan biennial (siklus hidup 12 – 24 bulan) yang menyimpan karbohidrat dalam jumlah besar untuk tumbuhan tersebut berbunga pada tahun kedua. Batang bunga tumbuh setinggi sekitar 1 m, dengan bunga berwarna putih.
           Wortel dapat dimakan dengan berbagai cara. Hanya 3% dari β-carotene pada wortel mentah dilepaskan selama proses pencernaan berlangsung, hal ini dapat ditingkatkan menjadi 39% melalui pulping, memasaknya dan menambahkan minyak sawit.
          Wortel sangat berguna sebagai tumbuhan pendamping bagi petani. Wortel dapat menaikkan jumlah produksi tomat jika ditanam secara bersamaan. Jika dibiarkan berbunga, wortel akan mengeluarkan aroma herbal yang menarik tawon predator untuk datang dan membunuh hama kebun.
          Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kebiasaan mengkonsumsi  wortel   memang mencegah kebutaan. Bahkan tercatat, kekurangan vitamin A menyebabkan  kebutaan (total atau sebagian) pada hampir 350,000 anak-anak dari 75 negara  setiap tahunnya. Sayangnya, anak sering sulit makan sayuran. Tak terkecuali wortel. Padahal,  sayuran berwarna jingga terang, dengan panjang 10-20 cm dan diameter 1,5-3 cm  ini punya banyak zat yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh.

Melindungi tubuh terhadap perusak!
           Di dunia ini, dikenal berbagai varietas  wortel  dengan ukuran dan warna yang  beragam. Namun,  wortel  oranye yang paling sering kita jumpai di pasar. Meski  begitu, ada juga  wortel  sebesar jari telunjuk, yakni  wortel  bayi. Biasanya   wortel  ini dikupas dan dicuci bersih, sehingga siap dikonsumsi sebagai makanan  ringan yang sehat.

          Yang akan terjadi jika kekurangan vitamin A
  • Kebutaan (total atau sebagian).
  • Kurang nafsu makan.
  • Pertumbuhan terhambat.
  • Gangguan pada syaraf.
  • Gangguan pada kulit.
  • Rabun senja.
  • Xerophtalmia  (mengeringnya selaput lendir yang melapisi bagian  dalam kelopak mata).
    Mudah terserang penyakit infeksi.
  • Tulang menjadi lebih lunak dan keropos.
  • Mudah terjadi degenerasi sel (menurunnya fungsi sel).
   
           Lalu kenapa  wortel  disebut sayuran yang kaya manfaat? Wortel kaya akan  senyawa karoten dan berbagai senyawa fitokimia. Juga,  wortel  sarat vitamin (B  dan C), kalsium, dan sumber-serat yang sangat baik.


Vitamin A dan beta-karoten

          Berapa banyak kandungan vitamin A dalam  wortel  sebenarnya bisa ditebak dari  warnanya. Semakin jingga, merah, atau ungu warnanya, semakin tinggi kandungan  vitamin A-nya. Adanya warna disebabkan oleh pigmen karoten.
          Kata “karoten” berasal dari kata Latin yang berarti  wortel  , yaitu pigmen  warna kuning dan oranye pada buah dan sayuran. Nah, salah satu anggota senyawa  karoten yang banyak dikenal adalah beta-karoten, yaitu senyawa yang akan  dikonversikan jadi vitamin A (retinol) oleh tubuh. Itu sebabnya, beta karoten  sering disebut pro-vitamin A (sumber vitamin A).
         Tubuh akan mengkonversikan beta-karoten jadi vitamin A dalam jumalh  secukupnya saja. Selebihnya akan tetap tersimpan sebagai beta-karoten. Sifat  inilah yang menyebabkan beta-karoten berperan sebagai vitamin A yang aman. Jadi,  tidak seperti suplemen vitamin A yang bisa menyebabkan keracunan, jika diberikan  secara berlebihan.
           Dalam bentuk beta-karoten,  wortel  bisa pula berperan sebagai antioksidan,  yaitu memberi perlindungan pada tubuh terhadap pengaruh negatif yang merusak  dari radikal bebas. Radikal bebas memang “bandel” karena bisa merusak sel  melalui proses oksidasi. Padahal, jika berlangsung lama, kerusakan itu  menyebabkan berbagai penyakit kronis, seperti penyakit jantung dan kanker.
  • Nilai Kandungan gizi Wortel per 100 g (3.5 oz)
  • Energi 173 kJ (41 kcal)
  • Karbohidrat 9 g
  • Gula 5 g
  • Diet serat 3 g
  • Lemak 0,2 g
  • Protein 1 g
  • Vitamin A equiv. 835 mg (93%)
  • Beta-karoten 8285 mg (77%)
  • Thiamine (Vit. B1) 0.04 mg (3%)
  • Riboflavin (Vit. B2) 0,05 mg (3%)
  • Niacin (Vit. B3) 1.2 mg (8%)
  • Vitamin B6 0,1 mg (8%)
  • Folat (Vit. B9) 19 mg (5%)
  • Vitamin C 7 mg (12%)
  • Kalsium 33 mg (3%)
  • Besi 0,66 mg (5%)
  • Magnesium 18 mg (5%)
  • Fosfor 35 mg (5%)
  • Kalium 240 mg (5%)
  • Sodium 2,4 mg (0%)
Persentase yang relatif ke US rekomendasi untuk orang dewasa.

Fitokimia

           Fitokimia Adalah senyawa kimia yang berasal dari tanaman, termasuk pigmen (zat warna)  tanaman. Nah, fitokimia pada  wortel  yang juga berperan penting, khususnya  sebagai antioksidan, adalah berbagai senyawa fenolik yang umumnya terdapat di  kulit. Fitokimia lain yang penting adalah alpha-karoten. Diduga, ini adalah senyawa  yang lebih kuat ketimbang beta-karoten dalam menghambat proses pertumbuhan sel  tumor.
           Selain itu, artikel pada Jurnal of Agricultural and Food Chemistry tahun 2000 melaporkan hasil kerja peneliti dari Universitas Arkansas di AS.  Ternyata, pemanasan mampu meningkatkan aktivitas antioksidan  wortel  rata-rata  34% lebih tinggi daripada dalam keadaan mentah. Wortel punya cukup banyak dinding-dinding sel yang keras, sehingga  banyak antioksidan berbagai senyawa yang masih terikat dan terperangkap dalam  susunan senyawa lainnya. Nah, pemanasan mampu membebaskan senyawa antioksidan  tersebut, sehingga aktivitas antioksidan  wortel  masak jadi lebih tinggi.
          Perlu diperhatikan, pemasakan  wortel  janganlah berlebihan, agar senyawa  antioksidannya tidak rusak. Panaskan secukupnya saja. Jangan sampai terlalu  empuk dan jadi bubur. Wortel yang telah dimasak ini bagus sekali diberikan sebagai sumber vitamin A.

NOVEL

Lucifer’s Curse


Prolog


          The Great Oracle, sosok yang dipercaya telah hidup cukup lama untuk melihat manusia pertama berjalan di bumi. Ia meramalkan kejadian-kejadian besar yang mengguncang langit dan bumi. Ada yang mengenalnya sebagai sosok anak kecil, nenek-nenek, wanita muda, bahkan hewan seperti burung merpati hingga seekor serigala. Tidak ada seorang pun yang tahu wujud aslinya. Sebagian orang yang pernah bertemu menganggap ialah sang waktu sendiri, seolah waktu berada di tangannya.
          Hamparan bebatuan dan tebing curam hampir menyatu dengan malam. Angin dingin berhembus di celanya. Seorang anak perempuan kecil berjalan tenang, membawa sebuah lentera. Matanya yang hitam pekat menerawang jauh langit yang penuh bintang. Ialah The Great Oracle.
          “Malapetaka besar mengguncang Underworld dan Caleum-surga, akan kembali terulang. Seorang Angel dan Demon yang berusaha menjebol batas diantara mereka,” gumam sang Oracle, seolah tenggelam dalam lamunan. Sebuah visi melintas dibenaknya. Kilasan Underworld yang meledak, lalu Caelum diselimuti oleh asap hitam tebal selama ratusan tahun-visi itu berganti menunjukkan seorang gadis dari ketinggian memandang dunia yang penuh cahaya gemerlap. Benda-benda menjulang tinggi dari tanah, seperti stalagmit yang berusaha mencapai langit-dunia masa depan, batin sang Oracle. Dalam visinya, gadis itu mencengkram belati terkutuk, orcus.
          “Hal buruk, akan menarik hal buruk yang lain untuk terjadi,” gumamnya, dengan memahami dan menguraikan benang-benang masalahnya, ikatan takdir ini akan terputus. Atau ikatan ini akan terus membelit ribuan tahun dan ribuan tahun selanjutnya.”


***

Ratusan ribu tahun lalu ketika hanya ada sedikit manusia dibumi dan mereka masih bisa melihat sayap-sayap angel dan demon.


           Azura merasakan dirinya seolah melayang di tengah lautan energi negatif yang begitu kuat. Oh tidak, jangan visi ini lagi, batinnya. Disekelilingnya, kerajaan Underworld porak poranda oleh api hitam dan merah, penuh reruntuhan dimana-mana. Mayat para demon tergeletak dengan mata hitam pekat terbuka memancarkan kesengsaraan tak berdasar. Para jiwa melolong memekakkan telinga.
          Diatas api-api yang mengamuk itu, sesosok malaikat iblis melayang diam. Membopong seonggok tubuh penuh noda darah yang sudah tidak bernyawa. Siluet pemuda itu sesempurna pahatan. Sayap hitam kokohnya mengibas api-api merah semakin berkobar.
Dan bagian paling mengerikan dari semuanya, sorot matanya semerah darah penuh kedengkian absolut. Sorot mata milik Lucifer, Azura merinding. Tiba-tiba semuanya meledak, lalu menjadi gelap. Seolah itu adalah saat terakhir sebelum ia sendiri meninggal.
          Azura berdiri dan tersentak.
          Kesadarannya kembali di saat ini, dimana ia sedang berpijak dilantai batu ruang tahta kerajaan.
          Nyala obor membuat bayang-bayang pilar semakin besar. Bayangannya menari-nari di tembok batu ruang tahta yang megah. Seorang pemuda berwajah rupawan dan perawakan atletis, mengetuk-ngetukkan telunjuk secara teratur pada lengan kursi tahta. Mahkota emas diatas rambut hitamnya semakin menonjolkan wajah tampan itu. Mata abu-abunya menatap tajam pintu ganda ruang tahta seperti sedang menanti seseorang.
          Azura, sang Oracle yang berambut merah panjang, berdiri diam disamping tahta sang raja neraka.
“Tuanku”, Azura memulai, mata birunya menatap cemas ke arah sang raja, Gregory.
Gregory menangkat tangan, menghentikan dengan gusar. “Jangan katakan apapun lagi tentang penglihatanmu itu Azura.” Ia memang terkenal tempramental.
“Tapi, aku tidak pernah melihat visi yang begitu jernih dan nyata,” Azura memberanikan diri untuk melanjutkan. Ia benar-benar gelisah dengan penglihatan yang makin lama makin sering menyita kesadarannya, membuatnya dalam keadaan bingung.
“Dengar, Azura, kerajaan Underworld tidak akan jatuh saat masa kekuasaanku. Sebentar lagi masa kejayaan akan tiba. Karena aku sendiri akan mengklaim kekuatan Lucifer,” kata Gregory dengan penuh tekad dalam mata abu-abunya.
“Kau bisa mengklaim kekuatan itu dengan mengklaim Lucifer Curse, tidak dengan cara seperti ini. Apalagi melibatkan seorang Angel.” Tanpa sadar suaranya meninggi oleh kegelisahan. Azura merasakan tangannya mulai basah.
“Lucifer Curse. Ha! Dan aku tidak akan pernah menjadi diriku sendiri lagi.” Gregory tertawa sinis. “tidak pernah ada demon yang cukup bodoh untuk melkukan hal itu, walaupun ia sangat haus kekuatan,” katanya sambil mendengus.
Memang benar, seorang demon yang mengklaim Lucifer’s curse akan abadi dan memiliki kekuatan Lucifer sendiri. Namun, tubuhnya akan berubah menjadi wadah kosong tanpa hati dan jiwa. Ia akan menjadi hamba Lucifer dalam keabadiannya.
“Itu terlalu mengerikan. Aku masih sennag karena seorang Demons tidak benar-benar immortal. Aku hanya butuh ribuan tahun kejayaan Underworld dan semua Demons tunduk padaku karena kekuatan yang kumiliki, lalu meninggal dengan penuh penghormatan,” lanjut Gregory. Kali ini, Azura tidak menanggapi lagi.
          Tak berapa lama kemudian, seorang bawahan kepercayaan yang telah dinanti-nanti Gregory, akhirnya tiba. Dean melenggang masuk dengan percaya diri, membungkuk hormat di depan Gregory. Rambut hitam cepak dan mata hijau, serasi dengan rautnya yang penuh kebengisan.
“Kau sudah membawa belatinya?” tanya Gregory.
“Semuanya sudah siap, Yang Mulia,” jawab Dean, tersenyum bengis. Gregory mengangguk puas. Dean tak pernah mengecewakan.
“seseorang yang sangat kubenci, tapi sangat dicintai oleh satu-satunya orang berhubungan darah denganku, akhirnya berada ditanganku,” gumam Gregory, seolah merapal mantra. “Dean, jang lupa beri Aurelle penawar racun sedikit. Aku ingin menyiksanya perlahan-lahan.” Seulas senyu keji terlukis diwajah mudanya yang tampan.
“Maaf, Tuanku?” Dean tampak sedikit terkejut, ia mengira rajanya salah bicara. “Kukira anda ingin segera mengambil jantungnya untuk ritual kekuatan itu?”
Api kebencian menari-nari dimata Gregory. “Aku hanya sedikit melampiaskan kebencianku. Ia telah merebut satu-satunya adikku, Will, dari kaumnya sendiri.”
          Sejak Will jatuh cinta dengan Aurellie, ia memutuskan untuk menolak posisi sebagai tangan kanan raja. padahal Gregory sangat mengharapkan potendinya untuk mengembangkan kekuasaan kerajaan. Gregory tahu, ia tidak memiliki kecerdasan dan kekuatan yang sebanding dengan Will. Dan ia sangat bersyukur karena Will tidak ingin menjadi raja, hanya ingin memberi dukungan untuk Gregory.
          Azura yang sudah tidak bisa menahan ketidaksetujuannya, langsung menyela, “Tuanku, dengan segala hormat, tolong selesaikan ritual ini dengan cepat. Jangan sampai emmancing perpecahan dengan kaum Angels.” Visi itu sudah menggerikan, sekarang Gregory hendak menambahkan kekacauan lebih jauh. Gregory langsung menoleh kearahnya dengan tajam.
“Akulah rajanya, Azura. Kau sebaiknya tutup mulut!” bentak Gregory jengkel, membuat Azura menunduk memohon maaf.
          Ditengah kekesalannya, Gregory langsung menyuruh Dean membawa malaikat itu ke Cruciatus Field. Azura melotot terkejut mendengarnya. Cruciatus Field adalah lapangan penyiksaan bagi jiwa-jiwa manusia yang paling buruk dan entah bagaimana ia tahu sebagian dari visinya itu terjadi disana. Walaupun Azura adalah seorang Oracle kerajaan Underworld, tapi ia tahu batasan-batasan apa yang tidak pantas. Dan seorang malaikat surga sangat tidak pantas berada di lapangan itu, dipermalukan ditengah jiwa-jiwa yang berkeliaran disana, namun Azura berusaha menggigit bibir. Tidak ada gunanya membuat Gregory semakin marah. Bahkan,  Dean tampak mematung tertegun mendengar perintah itu.
“Dean, sekarang!” teriak Gregory lagi.
          Dean melihat nyala mengerikan itu dimata Gregory dan memutuskan untuk menjalankan apapun yang dikatakannya tanpa bertanya.
          Begitu Dean pergi, Azura melihat Gregory mempersiapkan pedangnya dan mengusap bilahnya yang mengkilap. Ia hanya menelan ludah gugup. Entah apa yang akan dilakukan Gregory pada malaikat itu, namun satu hal yang sedikit menganggu Azura.
“Bagaimana dengan Will?” tanya Azura, memberanikan diri. Amarah Gregory tampak mereda sejenak. Seulas senyum licik melintas sejenak di wajahnya.
“Oh ia sedang berkelana sedikit terlalu jauh dari istana karena permintaanku,” jawabnya. Sebenarnya bukan itu yang ingin ditanyakan Azura. Bagaimana perasaan Will saat tahu tentang semua ini?” Aku sudah tidak peduli lagi kalau Will membenciku. Aku tidak membutuhkannya lagi untuk menjadi tangan kananku. Jika ia melawan, ia tidak akan bisa mengalahkan kekuatan baru yang akan kudapatkan,” lanjut Gregory sambil menyarungkan pedang dan mulai melenggang menuju Cruciatus Field.



***

           Setetes keringat dingin menuruni punggungku dengan sangat perlahan dan tangan kananku mencengkram lembut gaun putih panjang yang kukenakan, seiring mereka mendarat dihamparan rumput dihadapanku atau tepatnya tiga orang itu. Salah satunya adalah Dean, orang kepercayaan Gregory.
“Hallo, Angels,” Dean menyapa penuh nada mengejek. Mata hijaunya berkilat licik. Angels, adalah sebutan untuk kaumku. Seharusnya Angels dan Demons tidak bisa bersama, tetapi ada satu cara dengan menjadi manusia.
“Ada apa kau kesini, Dean?” tanyaku, menjaga suaraku tetap terkendali. Aku mulai merasa ada yang tidak beres.
“Will memintaku untuk menjemputmu,” katanya. Tidak mungkin!
“Apa yang dikatakan Will tepatnya? Ia tidak pernah bilang kaulah yang akan menemuiku disini,” desakku, mengulur waktu. Pikiranku terus meneriakkan nama Will.
Dean tertawa mengejek “Kau benar, Will tidak pernah menyuruhku kesini, tapi kau sudah tidak bisa lari lagi Aurellie,” dua kawanannya mulai merinsek maju hingga masing-masing berada dikanan kiriku.
          Dengan sangat cepat Dean melesat maju dan menusukkan belati tepat dibawah jantungku, aku tahu belati ini, ini belati beracun, orcus. Air mata menuruni pipiku, bukan karena kesakitan, namun karena memikirkan will. Perlahan-lahan kesadarankupun menghilang.



***


“Sebastian, apa menurutmu ini bahkan masuk akal?” omel seorang pemuda yang sedang berselonjoran di luar kandang besi besar berisi seekor Drakon besar yang sedang menyantap beberapa hewan. “Aku merasa terhina. Bisa-bisanya Gregory menyuruhku memberi makan Drakon miliknya. Seperti kekurangan pelayan saja.”. Ia adalah pangeran Underworld, tangan kanan sang raja, jendral yang memimpin pasukan Underworld.namun, menjadi pengasuh binatang buas tidak termasuk dalam tugas  Will.
“Tuanku, anda sudah menggerutu jengekl sejak beberapa jam yang lalu.” Pemuda berambut cokelat ikal bernama Sebastian itu hanya menggeleng.
          Kandang Drakon berada di salah satu bukit paling terpencil di dunia manusia. Entah ada alasan apa, kakaknya, Gregory, tiba-tiba memintanya untuk memberi makan Drakon. Setiap raja selalu punya binatang peliharaan sendiri.
“Menurutmu Aurellie benar-benar mendapat surat itu? Elangmu tidak ke sasarkan?” tanya Will tiba-tiba. Ia merasa gelisah.
“Ya, tentu saja tidak. Grassor tidak pernah tersesat sekalipun.” Sebastian menyahut cepat.
 “Seharusnya, sekarang aku dan Aurellie sudah menjadi manusia jika tidak ada tugas ini.” Jawab Will.
“Will kau harus kembali sekarang juga! Gregory membawa Aurellie ke istana. Dengan menggunakan belati orcus.  Aku mendengar Gregory menyuruh Dean membawa Aurellie ke Cruciatus Field.” Teriak Nathan.
“Apa?” seolah seseorang baru saja menamparnya. Tidak butuh penjelasan lebih lanjut tentang apa yang terjadi. Ia tahu suratnay tidak sampai ke tangan Aurellie, ia  tampak mengamuk saat itu juga.
“Racunnya! Kau harus cepat!” kata Sebastian, ia panik setengah mati sekrang setelah mendengar Orcus.
“Aku tahu! Hanya saja, butuh berjam-jam bahkan kalau aku terbang secepat mungkin!” bentak Will. Tangannya gemetar oleh amarah, rasanya ingin menghantam sesuatu.
Sebuah ide tiba-tiba menyentaknya. Will menoleh ke kandang Drakon dan menghampiri kandang itu secepat mungkin.
“well, aku tidak bisa terbang cepat , tapi makhluk ini bisa. Dan tepat saat aku di depan Gregory, aku akan memotong leher binatang peliharaannya ini,” kata Will, nada suaranya tenang, penuh tekad. Ia tahu, membunuh peliharaan raja, sama dengan tanda permberontakkan mutlak seperti memotong leher sang raja sendiri.


***



          Aku tidak tahu apa sekang aku masih hidup atau sudah mati. Saat matuku mulai mengerjap terbuka, semuanya terbayang seperti melihat dari balik air terjun. Begitu kesadaran dan ingatanku kembali, rasa sakit tusukan belati tadi langsung menyerangku lagi bagai ribuan pedang yang tiba-tiba dilemparkan dan semuanya menancap dalam tubuhku.
“Oh lihatlah, kau masih bisa membuka mata indahmu itu berkat penawar racun yang kuberikan. Kau tidak akan bisa merasakan, racun itu membunuhmu sangat  perlahan.” Sesorang berbicara dengan senang. Aku mendongak, mendapati Gregory menatapku dengan binar puas yang keji.
“sekarang, kau tidak ingin memohon agar kematianmu berlangsung lebih cepat?”lanjutnya.
“Aku tidak akan memohon pada orang sepertimu,” aku berusaha berkata dengan nada sejijik mungkin.
         Gregory menginginkan ritual itu sejak lama. Ritual untuk ‘mencuri’ kekuatan Lucifer dengan mengorbankan satu jantung orang yang paling dibencinya, namun harus sangat dicintai oleh orang yang berhubungan darah dengannya.
“Gregory!!” tiba-tiba terdengar suara teriakan yang begitu penuh amarah.
Untuk sejenak, aku melihat seekor Drakon melayang dihadapanku. Sedetik kemudian tiba-tiba kepala Drakon itu terjatuh dengan keras di lantai batu, diikuti tubuhnya.
“KAU! Berani-beraninya!” seru Gregory murka.
          Pertarungan pun tidak bisa dielakkkan lagi. Tanpa diduga, Gregory membawa dua pedang dan will tidak mengantipasi pedang yang lain. Aku melihat kakinya tersayat dengan menyakitkan dan ia terjatuh berlutut dengan keras. Dengan ngeri aku melihat Gregory mengangkat kedua pedangnya lagi...
“Tidak!!” jeritku.


***




          Aurellie benar-benar meninggalkanku, pikir Will. Ia masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya beberapa menit terakhir. Tubuhnya yang sudah tidak bernyawa, terbaring dalam dekapan Will. Ia tahu, racun orcus tidak hanya membunuh fisik, namun belati itu dapat menghancurkan jiwa seseorang, menghapusnya dari dunia ini. Cukup sudah, batin Will.
          Perlahan-lahan, ia bangkit sambil tetap mendekap Aurellie dalam gendongannya. Semua perasaannya seolah tertutup karena kesedihan yang terlalu hebat. Air mat di pelupuknya menetes untuk pertama dan terakhir. Mata abu-abunya sekarang mengeras oleh tekad. Tekad untuk menghancurkan semuanya.
          Dari kejauhan, Azura melihat visinya mulai menjadi kenyataan. Seonggok tubuh terkulai tak bernyawa dalam dekapan Will. Jubah putih malaikat itu, Aurellie, penuh noda darah yang menggelap. Perlahan tubuh malaikat itu meluruh menjadi debu. Dan yang membuat Azura merinding adalah tatapan dimata will. Begitu mutlak dan tak terbantahkan. Seolah ia menutup semua perasaannya dengan amarah dingin.
          Will mulai terbang naik dengan perlahan agar semua Demons dapat melihatnya dengan jelas. Pandangan matanya begitu tajam oleh kesedihan yang berubah menjadi amarah dan sebuah tekad baja.
“Oh tidak!” gumam Azura. Ia berdiri di tepi lapangan penyiksaan itu, tidak mampu berbuat apa-apa. Azura melihat Gregory masih hidup, namun terluka parah. Will masih tidak berkata apa-apa. Ekspresinya menjadi selicin es dan tak terbaca.
“I claim the Lucifer’s Curse!” tekad memancar dimatanya. Tekad untuk memusnahkan semua yang telah menghancurkan kebahagiaannya.
“Sekarang, nikmatilah hari kiamatmu,” ia tersenyum keji. Senyum yang tidak pernah terlihat diwajah Will. Wajah rupawannya semakin mencolok dengan aura berbahaya.
Hanya dalam sedetik  lamanya, api hitam meluluhlantakkan seluruh tempat itu.   Hati dan jiwa Will telah hilang selamanya.   Jeritan para demon  dilautan api hitam seolah-olah  tidak berpengaruh apa-apa terhadapnya.  Sekarang hanya ada kebencian dan ingatan kesedihan entah sampai kapan.

Seolah lucifer sendiri menyambutnya, api hitam itu menyambut Will,   lalu membalut tubuhnya dengan kekuatan iblis yang tidak pernah dimiliki malaikat manapun,  kecuali mungkin sang iblis itu sendIri.   Lalu,  semuanya meledak, itulah kegelapan yang dilihat Azura sebelumnya.

Jauh di atas langit,  seorang malaikat berambut pirang dengan mata biru cerah berdiri di ujung tebing caleum -surga.  Tangannya menggapai ke awan-awan hitam yang berlomba-lomba menyelimuti caleum.  Kedahsyatan ledakan yang baru terjadi  tak sebanding dengan pergumulan di dalam hatinya. “aku membuatnya terbunuh,  dan Will...  “  ia tercekat.  “ini semua salahku, “ gumamnya, dengan suara gemetar.


***

 Ini adalah awal dari hari yang baru,  tapi rasanya seolah ada hal yang berbeda, seolah semuanya telah berakhir.  

Duniaku terasa berhenti berputar. 

Dan matahariku terasa berhenti berkobar. 

Pernahkah kamu melihat matahari setelah patah hati, membeku entah disuatu waktu. 

Pernahkah kamu melihat bintang setelah kata perpisahan, aku melihat itu sebelumnya didalam matamu 


Aku tersesat di dalam kegelapan, ingin berada di mana kau berada 

Siang dan malam terasa seperti  tak pernah berakhir.  




Ribuan tahun. ...




Puluhan ribu tahun.... 



Ratusan ribu tahun. ...



New York. Musim semi (masa sekarang)

Lampu-lampu mobil dijalanan seolah membentuk aliran sungai berwarna keemasan   ditengah gedung-gedung Pencakar langit.  Semua gemerlap cahaya cahaya itu begitu terangnya hingga membuat lapisan stratosfer memantulkan cahanyanya.  Bahkan,  gemerlap-gemerlap itu memantul di kaca besar yang berfungsi sebagai tembok pembatas antara kamar mewah dengan udara luar.
 Will mengamati dari penthouse  bangunan pencakar langit tertinggi di New York. Ia duduk dengan santai di sebuah kursi berlengan besar yang nyaman.  Hampir setiap malam ia menghabiskan waktu beberapa menit duduk disini dan merengguk pemandangan kota New York dari lantai tertinggi yang ada di Seluruh kota.  Menyadari betapa dunia telah banyak berubah sejak ratusan ribu tahun.  Demons telah  memiliki wujud yang berbeda,  membaur diantara manusia-manusia yang tidak bisa membedakan.  Hanya segelintir orang yang bisa melihat wujud mereka sesungguhnya.

Ia merasa seolah membeku. Waktu tidak pernah memberi pengaruh adapun terhadap dirinya, dan tidak akan pernah menghapus ingatan masa lalu yang kelam itu. Will merasa inilah hukuman atas kekuatan terkutuk yang diterimanya, hidup abadi dalam kehampaan dan hati yang beku.


****

Sebelum turun dari mobil,  aku memastikan aku berada di luar gedung apartemen yang tepat.  Aku melihat alamat yang tertera di kartu undangan pesra simpel khas para remaja C.D.T The Luxury Apartement's Penthouse.90nd, floor.  Lalu mendongak ke arah papan nama elegant di dekat pintu utamanya.  Sebenarnya aku nggak yakin Lizzie diundang ke pesta di apartemen mewah dan elit begini.

Kata-kata bibi Charlene tergiang kembali: "kalau malam ini kau tidak bisa membawa sepupu yang gila pesta itu pulang,  aku terpaksa harus memulangkanmu lagi ke ibumu agar tidak terpengaruh dengan pergaulannya yang jelek itu. " ancaman dipulangkan adalah ancaman yang paling menyeramkan nomor satu bagiku.  Aku tidak ingin kembali ke rumah itu dengan suatu alasan yang kuat.

Akhirnya aku membuka pintu mobil dan keluar, memberikan kunci mobil pada petugas vallet service.  Aku mencoba melihat pakaiankuku sendiri.  Flare dress simpel selutut dan sepatu berhak model suede pumps.  Kau baik-baik saja Isabelle, batinku meyakinkan diriku sendiri. Kuharap bajuku tidak terlihat seperti baju tidur diantara baju orang-orang yang berseliweran  didalam sana.

Beberapa jam kemudian, aku sudah melenggang memasuki lobby besar yang mewah.  Parfum elegan dan segar langsung melingkupi.  Aku berusaha berjalan dengan percaya diri saat tante-tante modis melirik kearahku.   Bahkan, si petugas resepsionis gatal ingin mengamatiku dari ujung kepala sampai ujung kaki.

  "Aku ingin menghadiri pesta ini.  Bisa tolong tunjukkan arah menuju penthouse?" tanyaku sambil menyodorkan kartu undangan pesta Lizzie yang tertinggal.

Ha!  Sesaat tadi aku merasa menang ketika menemukan Lizzie meninggalkan undangannya,  tiket masukku di pesta asing ini.

"Penthouse?" resepsionis itu tampak sedikit ragu-ragu.  "Well memang ada pesta disana. Security dibalik pos itu akan menunjukkan jalannya padamu," lanjutnya lagi,  seolah meyakinkan diri sendiri bahwa ia tidak melakukan kesalahan.  Aku mengkerutkan kening bingung melihat ekspresinya. Apa yang ia takutkan?

Sekali lagi si security mengecek keaslian undanganku, mengamatiku lekat-lekat dengan oandangan khas mata security aku-galak-jadi-jangan-macam-macam,  berusaha melihat apakah aku memiliki kecendurungan akan melakukan kriminalitas atau tidak.  Tampaknya pesta ini sangat private.



"Nama?" tanyanya, masih dengan pandangan mata yang sama.  O-oh ini gawat.  Otakku segera melakukan spekulasi. Kalau aku menyebutkan namaku,  dan ia akan melakukan cross check,  aku akan ketahuan.  Bad ending.  Tapi,  jika aku menyebutkan nama Lizzie-dengan taruhan berbahaya ia belum mendaftarkan namanya,  maka aku bisa lolos  karena nama Lizzie sudah ada di undangan.  Hmmm....  Better?
Sambil finger cross,  dibalik punggung,  aku menyebutkan nama Lizzie. "Ehm...  Elizabeth, oh maksudku Natasha Withfield." jantungku berdebar-debar.
Hampir saja melakukan kesalahan. "Elizabeth adalah nama tengah yang jarang kupakai." kataku sambil memaksakan senyum menis.  Berusaha meredakan tatapan curiganya.


Aku lupa kalau Lizzie tidak bisa menggunakan nama tengahnya -Elizabeth, dalam urusan sehari-hari.  Ia membiarkan hanya keluarganya saja yang memanggil dengan Elizabeth, dan khusus aku Lizzie.  Si security memandangku dengan memincingkan matanya.  Lalu kembali ke papan pijit yang ia pegang.  


"oke,  namamu terdafar disini, " katanya, jadi, dari tadi dia tidak men-checklist  siapa yang sudah hadir? Dalam hati aku merosot lega.


Setelah mendengar instruksi menuju penthouse,  aku berterima kasih sesopan mungkin dan langsung menyingkir.  Mengikuti arahan security tadi, sampai di ujung lorong buntu dan berbentuk huruf 'U'.  Aku menuju lift tengah di ujung lorong yang tampak dibuat berbeda dengan yang lain.  Kesimpulanku,  siapapun pemilik penthouse itu,  ia pasti anak konglomerat di kota New York.


Begitu aku menekan tombol 'Up', pintu lift langsung terbuka tanpa menunggu.  Alu mengingatkan diriku sendiri kalau lift ini adalah lift khusus, akses pribadi menuju penthouse.  Aku menekan satu-satunya nomor yang ada,  nomor 90, lantai paling atas.  Hanya dalam beberapa detik saja,  aku langsung terpesona dengan lift ini,  tidak seperti lift gedung lain yang pernah kuingat, lift khusus tersebut mempunyai dinding yang seluruhnya kaca. Bagi orang yang takut ketinggian aku bertaruh, akan langsung merasa mual dan pusing begitu masuk kedalam lift ini.  Tapi aku sebaliknya.  Aku cinta ketinggian.



Seiring lift naik dengan sangat mulus,  aku menikmati pemandangan ribuan lampu-lampu di gedung-gedung pencakar langit yang berhamburan di kota Manhattan, serta Hudson River yang semakin mengecil
Kacanya benar-benar dipoles hingga bersih, sampai membuat kesan seolah tak berdinding. 


Lift berhenti dengan mulus dengan berdenting pelan.  Aku mengira  begitu pintu lift terbuka di sebuah foyer privat.  Namun aku salah besar.  Begitu pintu lift bergesed membuka, aku melangkah keluar  dan mendapati sedang berada dalam lorong berdinding kaca dan beratap kaca dengan lantai marmer yang berkilau,  bernuansa temaram dan modern. Beberapa dari dinding kaca itu merupakan jendela, jadi sewaktu-waktu bisa dibuka. Tapi saat ini semuanya  di tutup untuk menghalau angin malam yang  kencang, sebagai gantinya ada aliran udara dingin dari pendingin udara didalam sini.

Lorong kaca itu terletak dihamparan tamaan rooftop yang dipenuhi lampu-lampu elegan dan kolam yang airnya tampak setenang kaca. Lorong ini memanjang, lalu  berbelok ke kanan,  dan berakhir di tempat tepat ke arah pintu masuk  ke sebuah bangunan besar yang mirip mansion.  Sebenarnya,  bangunan  itu lebih terlihat seperti mansion modern yang dibangun diatas apartemen mewah  New York yang disebut penthouse.


Saat aku melewati lorong  kaca itu,  aku  rasa seperti melewati lorong  air Sea World
dengan taburan bintang diatasnya,  alih-alih air dan ikan.  Pintu masuk penthouse ini sangat simple, pintu kaca itu langsung terbuka begitu aku mendekat.


Ada semacam resepsionis kecil di dekat pintu masuk,  harum pewangi ruangan yang soft dan segar segera menghambur kesekelilingku.  2 orang satpam berdiri diam bagai patung di kanan dan kiri pintu, bahkan tidak menoleh ke arahku.   Siapa sih yang tinggal disini?  Sekilas,  saat akh melewati pintu utama,  ada plat acylric yang terpasang di samping pintu. Castum.  De. Inferno. Nama yang menarik untuk sebuah penthouse,  pikirku mengartikan kata demi kata bahasa latin itu sampai mengangkat alis.


Akhirnya aku masuk ke dalam dan ruangan itu sepi,   ada lorong sempit pendek dan lampu-lampu kuning kecil yang menyorot ke atas. Aku mulai mengendap seperti maling yang takut ketahuan.


***


Tangan Will berhenti begitu air sudah mengisi gelasnya separuh penuh.  Ia menelengkan kepala sambil berkonsentrasi.  Rasanya ia mendengar suara seseorang menarik nafas, dengan tajam.  Sudah cukup buruk bahwa peredam suara di ballroom tidak bisa menahan suara musik hingga tidak terdengar oleh telinganya yang berkemampuan normal diatas rata-rata. Sekarang, apakah salah satu tamu Kyle menyusup masuk ke kawasan tempat tinggal penthousenya?


Will meletakkan kembali gelasnya yang separuh penuh diatas meja kitchen set,  lalu ia berjalan menuju ruang duduk dikejauhan. Ia hanya menyalakan lampu kecil dan lampu meja di ruang duduk.  Bahkan,  di pantry ini ia hanya menyalakan satu lampu tepat diatas kitchen set.  Tapi itu sudah cukup terang baginya. Bahkan dalam keadaan gelap gulita, ia mampu melihat.  Ia berjalan ke tempat ruang duduk. Sambil berkonsentrasi terhadap indra pendengarnya.



"Aku tahu kau bersembunyi,  dilain sisi meja itu, " kata Will.  Pelan-pelan gadis itu berdiri sekitar 2 meter darinya. Ia menutupi wajahnya dengan tas,  dan diam-diam mencuri pandang ke arahnya.  Will menyipitkan mata berusaha melihat wajahnya.

***



Prolog



Aku melihat tatapannya,  seperti ribuan tahun yang lalu.  Dia berenkarnasi  menjadi sosok manusia. Dia Isabelle.


Kilasan kabur tentang seorang gadis yang selalu memenuhi mimpinya, terasa semakin nyata.  Ingatan akan masa kehidupan Angels dan Demons berhamburan. Janji-janji , tragedi yang melukai satu sama lain dan sumpahnya, "Tidak peduli ratusan sampai ribuan tahun,  i will find you again- aku tak akan pernah melupakanmu. "

SURAT LAMARAN KERJA

Kuningan, 23 Februari 2019



Hal                  : Lamaran pekerjaan
Lampiran         : satu bundel
Yth. Bapak/Ibu Pimpinan  Rumah Sakit  Kemang Medical Center
Jalan. Ampera Raya No. 34
Jakarta Selatan



Dengan hormat,
          Berdasarkan iklan di koran kompas, Jum’at  22 Februari 2019, saya mengajukan lamaran pekerjaan sebagai dokter kandungan di rumah sakit Kemang Medical Center yang Bapak/Ibu Pimpin.  Adapun data pribadi saya sebagai berikut :
       nama                              :  Nurul Fitri Nurhayati
       tempat, tanggal lahir      : Kuningan, 04 Maret 1995
       alamat                            : Jalan perjuangan, nomor 23, Caracas
       pendidikan terakhir       : S-2 dokter kandungan
       Sebagai bahan pertimbangan, saya lampirkan :
        1. fotokopi ijazah terakhir;
        2. fotokopi transkip nilai terakhir;
        3. pasfoto ukuran 4x6 dua lembar;
        4. daftar riwayat hidup;
        5. fotokopi KTP;
        6. fotokopi SKCK;
        7. fotokopi sertifikat pelatihan bahasa inggris.
          Demikian surat lamaran ini saya buat sebenar-benarnya. Atas perhatian dan kebijaksanaan Bapak/Ibu, saya ucapkan terima kasih.

Hormat saya,

Nurul Fitri Nurhayati

Sabtu, 23 Februari 2019

Esai

Penyair dan Karyanya yang (Tak) Masuk Dalam Pembelajaran



          Syair adalah salah satu jenis sastra yang tak banyak orang dapat membuatnya dengan apik. Syair merupakan salah satu jenis bentuk sastra yang terkadang isinya diambil dari realitas kehidupan manusia sehari-hari. Sajak, syair, maupun puisi merupakan suatu imajinasi dari penulisnya yang kemudian dituangkan ke dalam kata-kata. Tidak jarang juga isi dari sastra itu sendiri berasal dari curahan hati atau perasaan dari si penulisnya sendiri. Karya sastra tidak hanya dinikmati untuk dibaca, melainkan juga untuk bahan pelajaran di sekolah. hal itu penting karena dengan mengenal sastra, anak-anak atau generasi sekarang akan lebih mengenal sejarah dan menyingkapi permasalahan-permasalahan yang terjadi dengan cara yang menarik.
           Namun, untuk sepuluh tahun terakhir ini tidak banyak penyair yang dikenal oleh masyarakat atau generasi sekarang ini. Sekarang ini, tak banyak materi pembelajaran yang dikaitkan dengan sastra Indonesia. Generasi muda lebih banyak dikenalkan dengan pembelajaran prosa dan hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, seperti surat, mendeskrisikan, mengobservasi, dan lain-lain. Dari berbagai materi pembelajaran, hanya materi biografi yang masih dapat dikaitkan dengan pengarang dan karya-karyanya. Tujuan dari pembelajaran sastra sangat baik untuk generasi muda. Anak akan menjadi mengerti cara lain dalam mengekspresikan pikirannya, perasaannya, dan tindakan-tindakannya. Selain itu, anak akan dapat menghargai setiap karya yang diciptakan oranglain. Dalam sejarah, penyair sangat penting dalam sejarah Indonesia itu sendiri.
          Ada baiknya pembelajaran sastra lebih ditekankan lagi untuk generasi muda saat ini. Hal itu untuk mengajarkan anak menghargai setiap karya yang dihasilkan oleh orang lain. pembelajaran sastra dapat membantu anak dalam mengekspresikan apapun yang anak rasakan. Melihat fenomena dalam masyarakat dengan sudut pandang yang berbeda. Selain itu, pembelajaran dapat juga membantu anak dalam menambah kosa kata. Tidak hanya itu, dengan pembelajaran sastra kita juga dapat mengenalkan anak tentang pilihan kata atau diksi untuk mengungkapkan maksud dari perkataan kita. Diksi membantu anak dalam memilih kata yang tepat agar masih dalam kondisi sopan dan santun.
          Jika sastra lebih banyak dimasukan dalam kurikulum pembelajaran akan membantu guru dalam mengasah anak dalam pemilihan kata dan cara mengahargai karya oranglain. Sehinga, karya-karya dari semua pengarang akan berguna, tetap dikenang, dan yang pasti dikenal oleh seluruh generasi muda saat ini. Dengan demikian, generasi yang santun dan saling menghargai pun akan dimiliki oleh Indonesia dengan cara yang sederhana. Cara sederhana tersebut adalah menyelipkan pelajaran sastra dalam kurikulum dan dalam pelajaran Bahasa Indonesia disemua tingkatan mulai dari tingkat SD sampai dengan SMA.

cerpen

REZEKI ALLAH YANG MENENTUKAN


 
          Jariku menunjuk nama demi nama di papan pengumuman. Aku sangat berharap namaku ada diantara siswa yang beruntung itu. Jantungku berdegup kencang dan keringat dingin membasahi sela-sela jari. Jari ini bergerak dari satu kertas ke kertas lainnya. Hingga jari ini berhenti dan menunjuk sebuah nama. Muhammmad Adnan Al-fatih. “Alhamdulillah ya Allah aku diterima” ucapku dengan rasa syukur yang tak terkira. Aku diterima di SMA Internasional yang tersohor di Jakarta dengan jalur beasiswa.
            Angkot yang aku tumpangi tak terasa panas hari ini, keringat ibu-ibu yang pulang dari pasarpun tercium wangi. Aku sudah tak sabar ingin sampai di rumah dan mengabarkan keberhasilanku ini kepada Ibu. Baru kali ini aku dapat membuat mereka bangga. Tentunya dengan beasiswa yang kuterima ini, Ayah tak harus memikirkan beban biaya sekolahku nanti.

***
                      

“Kenapa tidak boleh Ayah?” kataku dengan mengiba. Aku ingin tahu kenapa Ayah tak mengizinkanku bersekolah di SMA Internasional.
“Ayah ingin kamu tetap bersekolah di Pondok Pesanten?” ujar Ayah dengan menepuk-nepuk pundakku.
“Tapi Ayah, aku sudah dapat beasiswa, jadi Ayah tak perlu memikirkan biaya sekolahku lagi” kataku dengan sedikit memaksa.
“Anakku, dengarkanlah Ayah, meskipun Ayahmu ini kerjanya serabutan, kadang bekerja kadang nganggur tapi Ayah masih mampu membiayaimu sekolah. Ayah akan mencari tambahan pekerjaan agar dapat mencukupi hidupmu di pondok pesantren” ujar ayah meyakinkanku.
“Dari mana uangnya? Saat ini biaya di pondok pesanten sangat mahal!”
“Dari Allah!” ujar Ayah sembari meninggalkanku menuju ke samping rumah. Jawaban Ayah tadi membuatku tersentak. Aku terpaku tak hentinya memikirkan ucapan beliau. Aku hanya tak ingin menjadi beban beliau. Kini beliau sudah mulai menua, uban putih sudah memenuhi kepalanya, sepertinya ia sudah tak kuat untuk mencangkul lebih lama lagi. “Ya Allah, luluhkanlah hati Ayahku?” kataku perlahan, tiba-tiba Ibu merangkulku dari belakang dan menciumku sangat lama.
“Adnan, Ayahmu benar. Allah akan mencukupinya. Turutilah Ayahmu, Nak” kata Ibu dengan suara lembutnya. Akupun hanya membisu, tak tahu harus berkata apa.
“Adnan, apa kamu mendengar ucapan Ibu?” ujar ibu padaku
“Iya Bu, Fatih mendengarnya. Baiklah Bu, Adnan akan menuruti perkataan Ayah. Adnan akan meneruskan ke Pondok Pesantren” akupun berlalu meninggalkan Ibu seorang diri.
“Ya Allah, semoga melepas beasiswa di SMA Internasional merupakan keputusan yang benar, dan semoga aku tak menyesalinya kelak…”.


***
          Hari ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki di pondok pesanten ini. Aku kebingungan,mata ini tak henti-hentinya memandangi tembok-tembok tinggi di pesantren.
Tembok itu terasa sangat dingin padaku. Semakin kupandang semakin membuatku merasa kecil dan asing. “Ya..Allah, mudahkan aku dalam menuntut ilmu” bisikku sembari mencari tempat istirahat.
“Alhamdulillah, akhirnya sampai juga di masjid ”kataku sambil membuka sepatu. Kemudian terlihat seseorang laki-laki berjenggot mendekatiku.
“Akhi, antum santri baru ya? Namanya siapa?” katanya sambil mengulurkan tangan padaku.
“Oh..iya mas. Saya Muhammmad Adnan Al-fatih mas, panggil aja Adnan”
“Aku Irsyad. Satu tahun diatasmu. Semoga nanti betah di pesantren”
“Iya mas, amin. Permisi mas, mau ambil wudhu dulu”
“Oh…iya silahkan”
          Akupun bergegas mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat ashar berjamaah. Seusai sholat tak lupa aku memanjatkan doa untuk kedua orang tuaku. Entah kenapa baru sehari saja meninggalkan rumah aku sudah ingin segera kembali. Saat itu aku teringat pesan Ayah ketika aku hendak berangkat ke Pesantren.” Adnan, jaga dirimu baik-baik di pesantren. Hafalkan Al-Quran. Nak. Ayah ingin melihat kamu menjadi orang yang berilmu dan mulia. Kemudian terbayang pula wajah teduh Ibu yang sangat menyayangiku.”Anakku,Ibu mencintaimu karena Allah” .


***


Setelah satu bulan di pondok pesantren…
            Awal hidup di pesantren memang tak semudah yang aku bayangkan. Aktivitas dari bangun pagi hingga kembali tidur sudah diatur di selembar kertas yang ditempel di dinding kamar masing-masing. Ketika jam tiga pagi, sudah ada pendamping yang siap meneriaki kami untuk segera bangun untuk melaksanakan shalat tahajud. Setelah itu kami harus menghafalkan Al-Quran sembari menunggu adzan subuh tiba
“Sudah hafal berapa juz dik?” kata mas Rasyid padaku.
“Waduh mas, masih sedikit. Masih tiga juz mas” kataku nyengir.
 “Alhamdulillah, terus semangat! Allah menyukai orang-orang yang dekat dengan Al-Quran. Tapi Dek, sudah coba menguji hafalmu kan?” ujar mas Rasyid menambahi perkataanya.
“Sudah mas, sudah saya setor ke Ustadz. Beres lahh…”
“Hahaha, kamu lucu sekali. Bukan itu maksudnya Adnan! Begini, maksud kakak, cobalah kamu gunakan hafalanmu ketika shalat sunnah. Perpanjanglah bacaan dengan surat-surat yang sudah kamu hafal” ujar mas Rasyid sembari meninggalkanku.
“Oo begitu…baikklah mas, akan Adnan coba. Syukran Mas!” teriakku pada mas Rasyid yang telah berlalu.
Akupun mencoba saran dari Mas Rasyid untuk menggunakan hafalan dalam shalat sunnahku. Subhanallah, ternyata yang tadinya hafal menjadi terbata-bata ketika digunakan saat shalat.
Berbicara kebersamaan, dipesantren kebersamaan anatara santri yang satu dengan yang lainnya sangat kuatseakan-akan sudah menjadi keluarga yang selalu bersama. Tidur bersama, saling berebut tempat tidur dan masih banyak hal lainnya. Pengalaman serta kesan apapun yang dialami memberikan pelajaran berarti. Hidup di pesantren mengajarkanku bagaimana menjadi pribadi yang mandiri, jauh dari keluarga.



***



“Ayah sehat Bu?” tanyaku kepada Ibu lewat telepon.
“Alhamdulillah nak, semua sehat. Adnan, maaf bulan ini kami tidak bisa mengirimi uang yang cukup buatmu. Sementara pakai itu dulu ya nak. Insya Allah jika ada rezeki lagi akan Ibu kirim uangnya” ujar Ibu.
“Iya Bu, tidak apa-apa. Insya Allah ini cukup Bu” kataku pada Ibu agar ia tak terlalu mecemaskanku.
“Bagaimana hafalanmu Nak? Sudah dapat berapa juz?”
“Sudah lima juz Bu”
“Semoga Allah memudahkanmu dalam menuntut ilmu. Ibu dan Ayah hanya dapat mendoakanmu dari jauh. Tadi ayahmu titip pesan Nak, meskipun dalam kesempitan jalan lupa bershodaqoh. Ya sudah, ibu tutup dulu teleponnya.Wassalamualaikum..”
“Waalaikumsalam...”
            Rasa rindu kepada orang tua sedikit terobati dengan telepon tadi. Setelah enam bulan lebih aku dipondok, ini bukan pertama kalinya mereka tidak bisa mengirim uang yang cukup untukku. Beberapa kali aku harus bersabar karena tidak ada uang sepeserpun di kantong. Aku pegang sisa-sisa uang yang kupunyai. Agar tak terlupa, uang untuk shadaqoh segaja aku sisihkan dari dompetku. Ayah mengajarkanku sejak kecil bahwa ada hak-hak orang lain di dalam uang yang kita miliki. “Aku lelah sekali! “kataku sembari merebahkan badanku ke dipan dan berharap agar segera bisa tertidur.
            Malampun berganti, kokok ayam jantan mulai terdengar satu per satu. Suara kicauan burung pipit juga ikut meramaikan sunyinya subuh pagi ini. Sebelum suara adzan berkumandang, segera aku selesaikan makan sahurku. “Ya Allah, aku berniat berpuasa daud. Kuatkanlah tubuhku hinga sore hari. Amin. Saat uang menipis, biasanya aku menjadi sangat rajin untuk berpuasa. Semoga itu tak mengurangi ensensi puasa” gumamku dalam hati.
            Dengan semangat berjuang untuk mencari Ilmu Agama kulangkahkan kaki menuju gedung madrasah. Pagi ini sinar matahari nampak cerah. Kulihat ribuan santri berduyun-duyun menuju kelas. Namun langkahku terhenti ketika tepat berada di depan papan pengumuman. Dalam pengumuman itu tertera bahwa lusa akan diadakan seleksi pertukaran pelajar ke Mesir. “Aku harus ikut!” kataku sambil menulis persyaratan-persyaratan yang harus aku lengkapi. Saat itu pula aku segera berlari ke kantor untuk meminjam telepon. Aku akan meminta izin dan mohon doa pada kedua orang tuaku.

***
           



“Adnan, bagaimana hasilnya?” tanya Ayah padaku.”
“Aku lolos. Ayah, aku tidak menyangka akan terpilih”
“Alhamdulillah ya Allah.Selamat ya Adnan. Anakku, yang perlu kamu ingat Nak, kamu lolos itu karena Allah, bukan karena kepandaian dan kemampuanmu” ujar Ayah padaku.
“Iya, Adnan mengerti”
 “Oh iya Nak, Ibumu seminggu ini tak henti-hentinya mendoakanmu. Ia selalu bangun untuk shalat tahajud.
“Sampaikan terimaksih Adnan pada Ibu” kataku pelan sambil berusaha menahan air mata.
“Adnan, mengapa suaramu terdengar tak bersemangat. Apa ada yang kamu pikirkan nak?” tanya Ayah kepadaku.
“Ayah, ada biaya administrasi yang harus dipenuhi. Sepertinya aku tak usah berangkat saja ke Mesir. Biayanya mahal…”
“Berapa nak?”
“12 juta”
“Berangkat saja! Sudah nak, kamu ga usah mikirin biaya. Biar Ayah saja yang urus. Karena Allah telah memberimu kesempatan untuk mencari ilmu di Mesir, tentunya Allah pula yang akan membiayai dan mencukupi pendidikanmu disana. Yakini itu Nak, janji Allah itu pasti!” kata Ayah meyakinkanku. Hatiku bergetar tiada henti. Sungguh aku dapat merasakan kenikmatan dari ucapan Ayahku, ucapannya begitu teduh dan penuh dengan keyakinan pada Allah.
 “Terimakasih Ayah…”


***


Saat ini aku berada dalam pesawat terbang menuju Mesir. Hatiku sangat bahagia. Aku bahagia karena orang tuaku  memiliki rasa cinta pada Allah yang begitu besar. Benar kata Ayah. Allah akan mencukupinya. Subhanallah, semua biayaku ke Mesir bukan berasal dari kantong Ayahku, namun dari beberapa teman Ayah dan ustadz-ustadz di daerahku yang menginfaqkan hartanya untuk memudahkan orang yang menuntut ilmu agama. Ternyata, percaya pada Allah itu lebih dari cukup. Percayalah pada Allah maka keajaiban-keajaiban akan terjadi pada  kehidupanmu ….”Allahu Akbar…!!”


Editorial

Energi yang Dibutuhkan



          Presiden Joko Widodo meresmikan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) Sidrap, Sulawesi Selatan, Senin (2/7) kemarin. Menurut Jokowi, Indonesia memiliki potensi yang besar untuk meningkatkan porsi energi baru terbarukan (EBT) mencapai 23 persen dari total bauran energi nasional pada 2025. "Kita punya potensi besar pengembangan energi baru terbarukan, baik dari panas bumi atau geothermal dengan potensi 29.000 MW dan baru dikerjakan 2 ribu MW," kata Jokowi.
         Sementara hari ini, Pertamina akan mulai melakukan uji pasar untuk elpiji ukuran 3 kilogram nonsubsidi di Jakarta dan Surabaya. Rencananya, elpiji itu akan dijual di atas Rp 11 ribu per kilogram dengan menyasar kalangan atas. Peluncuran elpiji nonsubsidi ukuran 3 kilogram itu tak lepas dari tidak tepat sasarannya "penikmat" elpiji subsidi 3 kilogram. Selama ini, banyak kalangan atas yang menikmati elpiji bersubsidi. Alasannya, karena ukurannya yang hanya 3 kilogram jadi lebih ringkas dan mudah untuk dibawa.
          Seperti yang dikatakan Presiden Indonesia punya potensi besar untuk energi baru terbarukan. Bukan sebatas listrik saja, namun juga sumber energi lain termasuk untuk kepentingan dapur termasuk pengganti elpiji. Sebut saja pemanfaatan gas metana di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Bayangkan jika tiap TPA dan peternakan sapi bisa disulap jadi sumber energi. Berapa banyak masyarakat di Indonesia yang akan terbebas dari kebutuhan energi mereka. Belum lagi jika tiap sungai, yang tentunya punya debit air mencukupi, dimanfaatkan untuk Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Atau yang jelas kita miliki adalah sinar matahari yang bersinar penuh sepanjang tahun yang jelas bisa jadi sumber energi tenaga surya. Terlebih, jika itu dinikmati oleh kalangan bawah, berapa besar biaya subsidi yang bisa dihemat pemerintah untuk listrik dan elpiji.